Penggunaan Bahasa Lampung kian ditinggalkan masyarakatnya bahkan oleh suku asli Lampung sendiri.
Mulyanto Widodo bukan asli suku Lampung, namun ia punya kegigihan melestarikan bahasa Sang Bumi Ruwa Jurai.
Oleh : Rudiyansyah
Sore itu kira-kira pukul setengah empat. Gedung Dekanat Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan sepi. Setelah menunggu beberapa menit di ruang lobi, seorang pria dengan postur tubuh tinggi mengenakan batik marun bermotif siger mengumbar senyum—sejurus mengajak saya masuk ke ruang kerjanya. Di papan nama pintunya tertulis, Pembantu Dekan I, Dr. Mulyanto Widodo M.Pd.
Mulyanto, akrab disapa Pak Mul memulai obrolan tentang kecintaannya pada bidang bahasa—tak sebatas bahasa dan sastra Indonesia semata melainkan juga bahasa daerah. Ia sudah 23 tahun menggeluti bidangnya itu, sejak awal menjabat dosen Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Lampung tahun 1988.
Mul giat mengembangkan bahasa daerah Lampung. Ia mengaku miris dengan kian menurunnya penggunaan bahasa Lampung di daerah sendiri—tak seperti daerah lain semisal Palembang. “Bahasa Lampung seharusnya dikembangkan oleh pemakainya,”ujar pria kelahiran Purbolinggo Lampung Timur, 3 Februari 1962.
“Bahasa Lampung adalah identitas orang Lampung yang tidak boleh digantikan dengan bahasa lain,” kata pria keturunan Jawa itu. Saat ini banyak orang Lampung yang tidak bisa berbahasa Lampung. “Masyarakat Lampung harusnya membuka diri dengan kebudayaan sendiri karena bahasa Lampung juga bagian dari aset kebudayaan nasional.”
Mul mengaku tak fasih benar melafal bahasa Lampung namun cukup pandai mengartikan makna. Itu berkat kecintaannya pada bahasa Lampung yang memacunya untuk terus belajar. “Mulailah mecintai bahasa sendiri. Jangan mengaku orang Lampung kalau tidak bisa berbahasa Lampung.”
Berkat kegigihannya itu, ia mampu mencipta karya yang membanggakan. Beberapa penelitaiannya soal bahasa dan sastra Indonesia maupun sastra Lampung menjadi rujukan. Sebut saja, penelitiannya Resepsi Cerita Rakyat Radin Jambat oleh Masyarakat Lampung dan Sinonim Bahasa Lampung Dialek Pubian.
Beberapa buku juga berhasil ia tulis, seperti: Bahasa Indonesia Laras Ilmiah, Kamus Sinonim Bahasa Lampung, dan Problematika Metode Pengajaran Sastra. “Orang Lampung harus melestarikannya (budaya), salah satunya dengan membukukannya,” ujarnya.
Menurut Mul, keinginannya membuat penelitian dan menulis buku tentang bahasa dan sastra daerah selain untuk memenuhi tugas sebagai dosen, juga sebagai sarana informasi bagi masyarakat luas. “Masyarakat bisa menggali kebudayaan daerahnya dengan kesadaran sendiri,”tutur dosen yang sering menjadi pemateri dalam berbagai seminar pendidikan dan bahasa ini.
***
Mul terlahir dari keluarga petani. Ia anak kelima dari sembilan bersaudara. Sekolah Dasar Negeri Tegal Gondo, Purbolinggo Lampung Timur, jadi sekolah pertamanya menuntut ilmu. “Sejak kecil saya bercita-cita menjadi seorang guru SD, SMP, SMA, hingga saat kuliah saat ingin jadi dosen,” ujar lulusan S3 UPI Bandung dengan predikat Cumlaude ini.
Mul terhitung mahasiswa gigih saat mengenyam perkuliahan. Di sela kesibukannya menempuh pendidikan S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Unila, ia juga mengajar di SMK 2 Mei. Upah yang ia peroleh dari mengajar, dipakai untuk membiayai kuliahnya hingga gelar sarjana berhasil disandang.
Dosen yang melanjutkan Studi S2 dan S3 dengan beasiswa Dikti ini mengaku sejak lama menyimpan kekaguman pada kebudayaan Lampung, khususnya tentang pemberian gelar atau Adok yang biasa disandang orang asli suku Lampung. “Hebat gelar-gelar yang dimiliki orang Lampung.”
Dalam penelitannya, Mul menemukan kekhasan sastra atau cerita-cerita rakyat daerah Lampung yang mengandung nilai-nilar religius yang sangat kental tentang agama Islam. Itu bisa terlihat dari adanya lafal bassmalah pada setiap awal cerita. “Pesan-pesan yang dikandung di dalam ceritanya, kebanyakan berhubungan dengan ibadah.”
***
Mul punya pengalaman menarik saat ujian tesis S2 nya di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Bandung (kini UPI). Seorang penguji mengetes kemampuannya berbahasa Lampung. Beberapa kata dilontarkan dan ia diminta mengartikannya ke dalam bahasa Lampung.
Penguji itu melontarkan kata makan. Merasa yakin, Mul menjawabnya dengan kata mengan. Namun sang penguji tak lantas percaya dan mengira Mul berbohong. Menurut penguji, mengan bukanlah bahasa Lampung melainkan bahasa Jawa yang juga punya kata mirip bermakna sama, mangan. “Itu terjadi karena bahasa Lampung memang masih kurang dikenal oleh suku atau daerah lain,”ujar bapak tiga orang anak hasil pernikahannya dengan Sumarni.
Selama 23 tahun menjadi dosen Mul tak lupa mengucap syukur dan mengambil hikmah dari apa yang telah dilaluinya. Segala pekerjaan yang dilakukan dianggapnya sebagai sebuah kepercayaan dan amanah yang wajib dilaksanakan.
Kini, ia ditunjuk oleh Dekan FKIP menjadi Ketua Tim Pembentukan Program Studi S1 Bahasa Lampung bersama empat orang Dosen Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP sebagai anggota tim. “Sesuatu yang dijalani dengan rasa syukur tidak akan menjadi duka. Tuhan tidak pernah tertidur.”*






































