
Seiring perkembangan zaman, motif penggunaan behel pun bergeser dari hal medis ke tren pergaulan.
Tak hanya kalangan selebritis, penggunaan behel pun marak terjadi pada kalangan remaja tak terlepas mahasiswa. Pukul 4 sore, pada 5 Januari 2011. Sebuah mobil sedan Suzuki Baleno menepi di pelataran klinik ahli gigi sekitar Jalan Teuku Umar Bandarlampung. Tiga sosok gadis remaja keluar dari mobil. Mereka langsung menuju ruang klinik yang sudah dibuka oleh si empunya.
“Kami datang ke sini untuk mengganti behel,” ujar April (26) warga Sukarame Bandarlampung.
Kawat gigi atau dalam bahasa Inggrisnya dental braces adalah alat yang digunakan dunia medis untuk meratakan gigi, seperti gigi miring atau tidak sejajar. Cara kerjanya mengatur, mendorong dan menahan pergerakan gigi hingga sejajar dengan barisan gigi lainnya. Perawatan ini dikenal dengan istilah orthodonti.
Dosen Sosiologi FISIP Unila, Endry Fatimaningsih menilai perilaku memakai behel karena faktor ikut-ikutan atau tren adalah hal yang tak wajar. Selain itu, penggunanya juga bisa dikelompokkan ke dalam status sosial tertentu. Behel bisa mengalami pergeseran fungsi menjadi simbol status sosial atau kelas ekonomi tertentu. “Pasang behel harganya lumayan mahal, bisa jadi untuk menunjukkan bahwa ia kelas menengah ke atas,” ujarnya.Endry menambahkan kelompok pergaulan dalam hal ini sangat berpengaruh pada perilaku seseorang. Namun, tergantung kepada individu masing masing, apakah punya konsep kepribadian yang kuat atau tidak. “Ada tren apapun, dia akan menampilkan diri sendiri, dan berhitung tentang asas manfaat bagi dirinya. Kalau diri sudah merasa percaya diri, maka tidak akan ikut-ikutan”.
Sementara itu, dipandang dari segi agama, Drs. Piping Setia Priangga selaku pengasuh mata kuliah Pendidikan Agama Islam (PAI) FISIP Unila, mengatakan, bila pemasangan behel didasari oleh usaha untuk memperbaiki keadaan gigi tak dilarang agama. “Boleh-boleh saja. Justru kalau niatnya ikhtiar untuk memperbaiki keadaan gigi ya malah bagus. Asalkan tujuannya bukan riya’, yakni mengharapkan agar dipuji dan disenangi orang,” jelasnya.
Maraknya penggunaan behel juga tak lepas dari menjamurnya praktek jasa pemasangan kawat gigi. Selain punya variasi behel yang beragam, para ahli gigi pun menawarkan harga yang relatif lebih murah.
Hal itu diakui April dan kedua rekannya. Mereka memang sengaja memilih ahli gigi karena biaya penggantiannya yang lebih murah. “Kalau di dokter gigi, ganti aja Rp100 ribu. Kalau di sini cuma Rp50 ribu.”
Hal ini senada diutarakan drg. Meirika Sari Caropeboka, yang buka praktek di Duta Medika Bandarlampung. Menurutnya pemasangan behel pada dokter gigi memang terbilang lebih mahal. Biaya pemasangannya bisa mencapai Rp4 juta sedangkan untuk biaya penggantian dikenakan Rp100 ribu.
Hal ini berbanding jauh dengan biaya yang ditawarkan para ahli gigi. Biaya pemasangannya hanya berkisar hingga Rp2 juta dan Rp50 ribu untuk biaya penggantian karetnya.
Namun, Meirika menilai pemasangan behel pada ahli gigi memiliki resiko yang berbahaya dan tidak bisa pertanggungjawabkan. Ahli gigi juga tidak memiliki dasar ilmu orthodhonti. Alat-alat yang digunakan pun belum tentu steril. Bila terjadi kerusakan gigi pasien, ahli gigi bisa lepas tanggung jawab. “Itulah mengapa dokter gigi lebih mahal daripada ahli gigi. Karena kami tetap mengontrol pasien sampai selesai pengobatan,” tuturnya.
Ia juga menjelaskan proses pemasangan behel harus melalui prosedur yang ideal. Seperti mengecek kondisi gigi. Ini untuk memastikan gigi bersih dari sisa makanan. Setelah bersih, bagian gigi difoto lalu dicetak untuk mempelajari bagaimana karakteristik gigi. Selanjutnya, gigi diberi perekat khusus kemudian dilaser, diberi bricket, wire atau kawat gigi barulah kemudian dipasang karetnya.
***
April sudah satu tahun memakai behel. Ia memasangnya pada dokter gigi di Jakarta. Biayanya mencapai Rp4 juta. Selain ingin merapatkan bagian giginya yang agak renggang di bagian bawah, ia juga ikut tren pergaulan. “Sekadar untuk lucu-lucuan,” ujarnya.
Di awal pemasangan, ia mengaku tak nyaman apalagi saat makan. Ia pun pernah kena sariawan gara-gara bagian lidahnya terkena kawat. “Takut brecketnya lepas kalau makan yang terlalu keras. Risih juga, karena ada benda asing di mulut apalagi kan bentuknya kawat. Tapi kalau udah lama sih biasa saja,” tuturnya.
Menurut Meirika, pemakai behel harus benar-benar menjaga kebersihan giginya. Sehabis makan, gigi harus segera disikat dengan sikat gigi khusus untuk membuang sisa-sisa makanan. “Tidak bisa sembarangan,” ujarnya.
Penggantian behel pun harus rutin dilakukan. Idealnya kawat gigi serta karet behel diganti minimal 3 bulan sekali. Perawatan behel ini mesti dilakukan secara intens. Biasanya pasien menggunakan behel selama kurun waktu 1-2 tahun.(Desisonia L, Rikawati)
































